justjlm.org

justjlm.org – Myanmar mengalami peningkatan ketegangan pasca-kudeta militer tahun 2021, dengan pasukan pemberontak yang terus menekan junta militer. Pemberontak berhasil merebut Myawaddy, sebuah pos perdagangan strategis yang menghubungkan Myanmar dengan Thailand, pekan lalu, menandai sebuah kemajuan signifikan dalam konflik tersebut.

Pembebasan Myawaddy oleh Pasukan Pemberontak

Pasukan pemberontak, yang beroperasi di sekitar Myawaddy, telah menyebabkan kerusakan yang signifikan pada infrastruktur kota. Menurut Saw Kaw, komandan unit pemberontak, pasukan junta mengalami demoralisasi dan memilih untuk mundur ketimbang mempertahankan posisi mereka, memungkinkan pemberontak meraih kemenangan yang cepat.

Kondisi Pasukan Junta dan Opsi Mereka

Sekitar 200 tentara junta kini terpojok di dekat jembatan yang menghubungkan Myawaddy dengan Thailand. Mereka menghadapi pilihan untuk menyerahkan diri kepada Thailand atau kepada pasukan pemberontak dari milisi etnis Karen, KNU.

Dampak Strategis Jatuhnya Myawaddy

Kejatuhan Myawaddy ke tangan perlawanan memiliki konsekuensi strategis besar, mengingat ini adalah salah satu dari dua penyeberangan perbatasan darat utama Myanmar. Pemberontak telah mengendalikan Muse, yang berdekatan dengan perbatasan China, sejak tahun sebelumnya, mengganggu sumber pendapatan junta dari bea cukai berbasis darat.

Analisis Ekonomi dan Strategi Junta

Institut Strategi dan Kebijakan-Myanmar (ISP) menilai bahwa junta telah kehilangan hingga 60% pendapatan bea cukai berbasis darat dengan kehilangan Myawaddy. Dengan ekonomi negara yang goyah dan tingkat kemiskinan yang meningkat, posisi junta dianggap paling lemah sejak kudeta tahun 2021.

Proyeksi Kembalinya Kontrol Junta atas Myawaddy

Analis keamanan Anthony Davis dari Bangkok memprediksi bahwa junta akan berusaha untuk merebut kembali Myawaddy, mengingat pentingnya kota tersebut sebagai titik akses perdagangan vital. Sekitar 14% dari total perdagangan Myanmar melalui perbatasan darat telah berlangsung melalui Myawaddy, mencerminkan pentingnya kota tersebut bagi ekonomi Myanmar.

Perubahan Sikap Thailand terhadap Konflik Myanmar

Thailand, yang memiliki hubungan yang rumit dengan junta, mulai mempertimbangkan kembali pendekatannya terhadap konflik. Wakil Menteri Luar Negeri Thailand menyatakan bahwa telah terjadi komunikasi dengan KNU dan grup lainnya, menunjukkan keinginan Bangkok untuk memfasilitasi dialog, terutama mengenai isu-isu kemanusiaan.

“Kami berharap untuk mencapai perdamaian dan untuk itu kami harus menjalin komunikasi dengan semua pihak,” ujar pejabat Thailand tersebut, menegaskan posisi negaranya yang netral dan terbuka untuk dialog.