Evolusi Strategi Militer Hamas dalam Menghadapi Pasukan Israel di Jalur Gaza

justjlm.org – Kelompok militan Palestina, Hamas, telah mengadopsi pendekatan baru dalam konfrontasi militer dengan Israel di Jalur Gaza. Berdasarkan wawancara dengan beberapa sumber pejabat dari Amerika Serikat dan Israel yang dilaporkan oleh Reuters, Hamas telah mengalihkan fokusnya dari pertempuran skala kecil di kota Rafah, di bagian selatan Gaza, yang menjadi pusat konflik sebelumnya.

Strategi baru Hamas meliputi serangan penyergapan dan penerapan bom rakitan yang ditargetkan pada posisi-posisi yang sering berada jauh di belakang garis depan. Wissam Ibrahim, seorang penduduk Gaza, menyoroti perubahan ini dalam wawancaranya dengan Al Arabiya, menyatakan bahwa, “Sebelumnya, Hamas akan langsung menghadapi dan menyerang prajurit Israel saat memasuki wilayah. Namun, kini mereka mengadopsi taktik penyergapan setelah Israel mengerahkan pasukannya.”

Strategi ini diprediksi oleh pejabat AS dapat memperkuat posisi Hamas dalam menghadapi Israel dalam beberapa bulan mendatang. Strategi ini juga didukung oleh aktivitas penyelundupan senjata ke Gaza melalui terowongan serta pemanfaatan senjata yang berhasil direbut dari pasukan Israel.

Peter Lerner, Juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF), mengakui kehilangan sekitar 300 prajurit dalam konflik terkini, namun menegaskan bahwa IDF masih memiliki keunggulan strategis atas Hamas. Lerner menambahkan, “Tujuan operasi militer kami bukan untuk menghabisi setiap anggota Hamas, melainkan untuk mengeliminasi Hamas sebagai entitas pemerintahan di Gaza.”

Dengan perubahan strategi ini, situasi di Gaza menjadi lebih tegang di tengah negosiasi gencatan senjata yang belum menghasilkan kesepakatan. Presiden AS Joe Biden telah mengusulkan sebuah proposal damai tiga tahap yang saat ini sedang dibahas oleh kedua belah pihak. Hamas menuntut inklusi penarikan pasukan AS dari Gaza dan penghentian permusuhan sebagai bagian dari kesepakatan.

Adaptasi strategi Hamas menunjukkan sebuah pergeseran taktis yang signifikan dalam konflik berkepanjangan dengan Israel. Sementara kedua belah pihak terus menyesuaikan taktik mereka, komunitas internasional tetap waspada terhadat potensi eskalasi dan implikasinya bagi upaya perdamaian yang berkelanjutan di kawasan.

Indonesia Kecam Aksi Penyerbuan Masjid Al Aqsa oleh Pemukim Israel Selama Pawai Bendera

justjlm.org – Kelompok Hamas Palestina disebut bakal mengubah taktik untuk menyerang pasukan militer Israel di Jalur Gaza.
Sejumlah pejabat Amerika Serikat dan Israel mengatakan kepada Reuters bahwa Hamas saat ini menghindari pertempuran-pertempuran kecil di sekitar kota selatan Gaza, Rafah.

Sebaliknya, mereka kini melancarkan strategi lain yakni menyergap dan melempar bom rakitan ke target-target yang seringkali berada di belakang musuh.

“Pada bulan-bulan sebelumnya, Hamas akan mencegat, menyerang, dan menembaki prajurit Israel segera setelah mereka memasuki teritori Israel,” kata penduduk Gaza, Wissam Ibrahim, seperti dikutip Al Arabiya.

“Namun sekarang, ada pergantian taktik dalam operasi mereka. Mereka menunggu Israel mengerahkan pasukan, dan mulai melancarkan penyergapan dan serangan,” ucap dia.

Sejumlah pejabat AS juga mengatakan taktik semacam itu bakal mempertahankan upaya pemberontakan Hamas selama berbulan-bulan mendatang.

Hal itu juga dibantu dengan penyelundupan senjata ke Gaza via terowongan serta dari persenjataan yang berhasil dirampas dari pasukan Zionis.

Juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Peter Lerner, mengatakan pihaknya masih berada jauh di atas Hamas terlepas dari segala taktik mereka melawan IDF.

Lerner berujar Hamas saat ini telah kehilangan banyak anggotanya imbas berperang dengan Israel. Sementara Israel hanya kehilangan sekitar 300 prajurit.

Dia pun menyebut pasukan militer saat ini sedang beradaptasi dengan perubahan taktik perang Hamas.

Meski begitu, ia menegaskan bahwa IDF tak akan bisa melenyapkan seluruh anggota Hamas maupun menghancurkan terowongan mereka. Tujuan Israel yaitu menghancurkan Hamas dari posisinya di Gaza.

“Tidak pernah ada tujuan untuk membunuh setiap anggota Hamas di lapangan. Itu bukan tujuan yang realistis,” ujar dia.

“[Namun] menghancurkan Hamas sebagai otoritas pemerintahan merupakan tujuan militer yang dapat dicapai dan objektif,” lanjut Lerner.

Menurut pejabat senior AS, Hamas diperkirakan telah kehilangan 9.000-12.000 pejuang buntut agresi Israel. Sementara Israel hanya sekitar 300 prajurit.

Perubahan taktik dan memanasnya situasi di Gaza terjadi kala negosiasi gencatan senjata antara kelompok itu dengan Israel, belum menemukan kesepakatan.

Terbaru, Presiden AS Joe Biden mengusulkan proposal damai tiga tahap, yang kini tengah didiskusikan oleh masing-masing pihak.

Sejauh ini, kelompok Hamas menuntut agar kesepakatan gencatan senjata ini termasuk penarikan pasukan AS dari Gaza dan penghentian permusuhan secara permanen.

Diplomasi dan Ketegangan: Dinamika Usulan Gencatan Senjata AS dalam Konflik Gaza

justjlm.org – Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh, menyatakan kesiapannya untuk menerima setiap kesepakatan yang bertujuan menghentikan agresi di Jalur Gaza, Palestina. Menurut laporan Middle East Monitor, Haniyeh menegaskan bahwa Hamas dan faksi-faksi perlawanan akan secara serius dan positif mempertimbangkan setiap proposal yang bertujuan untuk menghentikan sepenuhnya agresi, menarik semua pasukan, dan menyepakati pertukaran tahanan.

Haniyeh menunjukkan respons yang menggambarkan kemungkinan penyelesaian konflik Israel-Palestina yang telah berlangsung selama delapan bulan sejak 7 Oktober 2023. Pendekatan ini mendapat dorongan ketika Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, mengusulkan gencatan senjata yang diharapkan dapat mengurangi serangan dan mengakhiri konflik di Gaza. Proposal Biden mencakup tiga fase yang melibatkan penarikan pasukan Israel, pertukaran sandera, dan rekonstruksi Gaza.

Namun, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan pihaknya belum siap untuk mengakhiri konflik dan mengkritik proposal Biden sebagai ‘tidak akurat.’ Usaha mediasi yang diinisiasi oleh negara-negara seperti Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat belum menghasilkan gencatan senjata permanen di Gaza.

Dalam keterangan lain, pejabat Hamas Osama Hamdan, yang dikutip oleh Reuters, menegaskan bahwa mereka tidak akan menyetujui kesepakatan tanpa komitmen jelas dari Israel mengenai gencatan senjata permanen, penarikan penuh dari Jalur Gaza, dan penyelesaian yang serius mengenai pertukaran tahanan.

Di tengah upaya berbagai pihak untuk meredakan konflik, Israel tampaknya belum memiliki niat untuk sepenuhnya menghentikan perang. Bahkan, gugatan di Mahkamah Pengadilan Internasional (International Court of Justice/ICJ) juga belum cukup untuk menghentikan serangan Israel yang telah menewaskan lebih dari 36.500 warga Palestina selama delapan bulan terakhir.

Krisis di Perbatasan Rafah: Tank Israel Masuki Palestina dan Dampaknya pada Jalur Gaza

justjlm.org – Perbatasan antara Palestina dan Mesir, Rafah, ditutup setelah tank-tank Israel memasuki wilayah selatan Palestina. Akibat penutupan ini, pengiriman bantuan ke Jalur Gaza terhenti, mempengaruhi pergerakan orang dan distribusi bantuan di wilayah tersebut.

Tank-tank Israel dilaporkan telah memasuki Kota Rafah, selatan Jalur Gaza, dengan melintasi perbatasan hingga 200 meter ke wilayah Rafah yang berbatasan dengan Mesir. Meski operasi militer Israel terlihat terbatas, video yang beredar menunjukkan keberadaan tank-tank Israel di perbatasan Rafah.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengumumkan bahwa mereka telah mengontrol perbatasan dan menempatkan pasukan khusus untuk melakukan pemindaian kawasan dalam beberapa jam ke depan. Serbuan tank ini terjadi setelah serangkaian serangan di Gaza yang menewaskan 12 warga Palestina.

Meskipun Hamas menyetujui proposal gencatan senjata dari Qatar dan Mesir, Israel menilai proposal tersebut tidak memenuhi persyaratan mereka. Israel berencana untuk melanjutkan operasi militer di Rafah untuk menekan Hamas, meskipun keputusan Hamas disambut dengan baik oleh warga Palestina di Gaza.

Situasi konflik di Jalur Gaza telah menimbulkan korban yang signifikan, dengan lebih dari 34.700 orang tewas, sebagian besar di antaranya adalah anak-anak dan perempuan. Keadaan ini menciptakan dampak serius dan memprihatinkan di wilayah tersebut.

Keputusan AS dalam Konteks Konflik Israel-Palestina: Penundaan Pengiriman Senjata ke Israel

justjlm.org – Amerika Serikat baru-baru ini mengambil langkah untuk menangguhkan pengiriman senjata ke Israel sejak pekan lalu, menjadi langkah pertama AS menunda pengiriman senjata ke sekutunya sejak agresi Israel terhadap Jalur Gaza Palestina pada 7 Oktober 2023. Langkah ini, yang dilaporkan oleh dua pejabat Israel kepada Axios, telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan pejabat Israel.

Pada Jumat (3/5), sejumlah anggota DPR AS dari Partai Demokrat mendesak Presiden Biden untuk mempertimbangkan penghentian penjualan senjata ke Israel, kecuali Israel mengubah pendekatannya dalam konflik dengan Hamas di Jalur Gaza. Surat yang ditandatangani oleh 86 anggota Kongres AS dari Partai Demokrat telah dikirimkan ke Gedung Putih, dengan penekanan pada perlunya pendekatan tegas dari AS terhadap Israel.

Meskipun belum ada tanggapan resmi dari pemerintah AS dan Israel terkait laporan ini, keputusan AS untuk menunda pengiriman senjata muncul dalam konteks tekanan yang semakin meningkat, baik dari dalam maupun luar negeri, terhadap dukungan AS terhadap Israel. Demonstrasi solidaritas dengan Palestina semakin meluas di kampus-kampus AS, berdampak pada gerakan serupa di negara lain seperti Prancis.

Presiden Joe Biden sebelumnya telah meminta jaminan dari Israel bahwa penggunaan senjata yang disediakan oleh AS sesuai dengan hukum internasional. AS juga telah menentang rencana invasi darat Israel ke Rafah, Jalur Gaza, menunjukkan kompleksitas hubungan antara kedua negara tersebut.

Kongres AS Mengesahkan Alokasi Dana Keamanan Internasional Berjumlah USD 95 Miliar

justjlm.org – Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat telah mengambil langkah signifikan dengan meratifikasi sebuah paket legislatif yang mengalokasikan dana keamanan senilai USD 95 miliar. Dana ini direncanakan untuk disalurkan ke Ukraina, Israel, dan Taiwan. Langkah ini diambil meskipun ada ketidaksepakatan dari anggota Partai Republik yang berhaluan keras.

Progresi Paket Legislatif Menuju Senat

Setelah persetujuan yang diberikan oleh Dewan Perwakilan Rakyat, paket kini berada dalam proses pengesahan oleh Senat, yang saat ini mayoritas kursinya dipegang oleh Partai Demokrat. Pengesahan ini didukung oleh berbagai pemimpin dari kedua partai, termasuk Presiden Joe Biden dari Partai Demokrat dan Senator Republik Mitch McConnell yang mendesak Ketua DPR, Mike Johnson, agar segera melangsungkan pemungutan suara.

Diperkirakan Persetujuan Senat dan Pengesahan Presiden

Dengan dukungan yang kuat di Senat, diharapkan RUU ini akan dengan cepat disetujui dan diserahkan kepada Presiden Biden untuk ditandatangani dan diresmikan menjadi undang-undang yang berlaku.

Aspek-Aspek Utama dari Paket Legislatif

RUU yang tergabung dalam paket ini merangkum elemen bantuan keamanan untuk Israel, peningkatan pertahanan Taiwan, serta penguatan dukungan kepada sekutu di kawasan Indo-Pasifik. Selain itu, terdapat langkah-langkah seperti penerapan sanksi baru, pembatasan terhadap aplikasi TikTok, dan rencana untuk alokasi aset Rusia yang disita guna mendukung Ukraina.

Pernyataan Resmi dari Gedung Putih

Gedung Putih telah mengeluarkan pernyataan yang mengungkapkan bahwa persetujuan paket legislatif ini akan mengukuhkan posisi Amerika Serikat sebagai pemimpin global dalam upaya-upaya keamanan internasional pada masa yang kritis.

Oposisi dari Beberapa Fraksi Partai Republik

Meskipun terdapat dukungan lintas partai yang luas, sejumlah anggota Partai Republik telah menyatakan keberatan terhadap bantuan tambahan ke Ukraina, dengan alasan kekhawatiran fiskal terkait dengan peningkatan utang nasional yang telah mencapai angka USD 34 triliun.

Pembagian Dana dalam RUU

RUU tersebut mengalokasikan sejumlah dana yang spesifik: USD 60,84 miliar diarahkan untuk mengatasi konflik di Ukraina, termasuk dana untuk pengisian kembali stok senjata dan persediaan militer AS; USD 26 miliar dijadwalkan untuk Israel, dengan bagian dari dana tersebut untuk inisiatif kemanusiaan; dan USD 8,12 miliar dialokasikan untuk mendukung sekutu di kawasan Indo-Pasifik.

Israel dan AS Klarifikasi Keterlibatan Mereka dalam Insiden Ledakan di Irak

justjlm.org – Israel secara resmi menyangkal keterlibatan dalam insiden ledakan yang terjadi di pangkalan militer di selatan Baghdad, yang juga digunakan oleh Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) Irak, pada malam hari tanggal 19 April. Seorang pejabat Israel memberikan keterangan pada hari Sabtu (20/4) bahwa negaranya tidak berperan dalam peristiwa tersebut.

Pernyataan Militer AS dan Koalisi Anti-ISIS

Serupa dengan Israel, Militer Amerika Serikat juga menegaskan bahwa mereka tidak terlibat dalam serangan di Irak tersebut. Koalisi yang dipimpin oleh AS untuk memerangi kelompok jihadis Negara Islam di Suriah dan Irak, lebih dikenal sebagai ISIS, juga menegaskan bahwa mereka tidak melakukan operasi serangan di wilayah Irak.

Kronologi Ledakan di Baghdad dan Isfahan

Insiden ledakan di dekat ibu kota Irak terjadi sehari sesudah serangan yang ditargetkan ke pangkalan militer di Isfahan, Iran. Dalam konteks serangan tersebut, seorang pejabat AS telah memberikan keterangan kepada media bahwa “Israel bertanggung jawab atas serangan di Iran.”

Dampak Ledakan pada PMF dan Penegasan Hashed al-Shaabi

Muhannad al-Anazi, anggota Komite Keamanan di Kegubernuran Babel, melaporkan bahwa akibat ledakan tersebut, setidaknya tiga anggota PMF mengalami luka-luka. PMF sendiri telah mengonfirmasi bahwa ledakan tersebut telah menyebabkan kerugian material dan korban luka.

Detil Insiden Ledakan di Pangkalan Militar Calso

Ledakan yang berlokasi di pangkalan militer Calso, yang merupakan basis bagi kelompok paramiliter pro-Iran Hashed al-Shaabi, mengguncang wilayah selatan Baghdad pada malam tersebut. Hashed al-Shaabi telah mengkonfirmasi bahwa serangan tersebut memang terjadi dan menimbulkan kerugian serta korban, meskipun tidak dijelaskan jumlah korban secara spesifik.

Tanggung Jawab atas Insiden Masih Belum Terklaim

Sampai dengan saat ini, belum ada pihak yang secara terbuka mengklaim bertanggung jawab atas serangan ini, meninggalkan pertanyaan terbuka tentang siapa pelaku di balik insiden tersebut.

Komunikasi Strategis AS-Israel dan Reaksi Internasional Terhadap Operasi Militer di Iran

justjlm.org – Pemerintah Amerika Serikat menerima notifikasi darurat dari Israel berkenaan dengan rencana serangan ke wilayah Iran beberapa menit sebelum operasi dilaksanakan pada 19 April. Informasi ini diungkap oleh Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, yang menegaskan bahwa transmisi informasi tersebut terjadi tanpa penyediaan detail komprehensif.

Sikap Resmi Amerika Serikat Mengenai Insiden Militer

Dalam menanggapi insiden ini, Sekretaris Negara AS, Antony Blinken, menahan diri dari memberikan keterangan rinci dan menekankan bahwa Amerika Serikat tidak terlibat dalam operasi ofensif tersebut. “Fokus kami bersama dengan anggota G7 adalah pada upaya de-eskalasi,” tegas Blinken selama konferensi pers, merujuk pada pendirian kolektif negara-negara G7.

Respons G7 terhadap Aksi Militer di Timur Tengah

Aksi militer yang dilakukan oleh Israel terhadap Iran telah mendesak para pemimpin G7 untuk meninjau ulang agenda mereka dengan tujuan mengatasi implikasi dari insiden tersebut. Dalam sebuah pernyataan yang dirilis, para menteri luar negeri G7 menyerukan kepada semua pihak yang berkepentingan untuk mengambil langkah-langkah pencegahan terhadap eskalasi konflik yang lebih serius.

Sekuen Serangan dan Implikasinya pada Hubungan Israel-Iran

Serangan yang diinisiasi oleh Israel dengan pengiriman tiga drone ke fasilitas militer di Isfahan merupakan kelanjutan dari serangkaian ketegangan yang telah berlangsung, diawali dengan serangan Iran pada 13 April sebagai pembalasan atas insiden di kedutaan besar Iran di Damaskus oleh pasukan Israel pada awal bulan. Meski mendapat peringatan dari kekuatan-kekuatan Barat terhadap kemungkinan peningkatan konflik, Israel melanjutkan aksinya, yang dimaksudkan sebagai posisi tegas terhadap ancaman balasan dari Iran.

Sikap Iran Terhadap Agresi Militer Israel

Pemerintah Iran, diwakili oleh Menteri Luar Negeri Hossein Amirabdollahian, bereaksi dengan pengurangan tingkat serius terhadap serangan yang dilakukan Israel, menyamakannya dengan tingkah laku anak kecil. Amirabdollahian menunjukkan bahwa serangan drone yang dilakukan oleh Israel tidak dipersepsikan sebagai serangan besar oleh pemerintah Iran.

AS Tegaskan Komitmen Bantuan kepada Israel Pascaserangan Iran tanpa Partisipasi Militer

justjlm.org – Pemerintah Amerika Serikat, dipimpin oleh Presiden Joe Biden, telah memutuskan untuk meneruskan pemberian bantuan kepada Israel setelah serangan yang dilakukan oleh Iran. Dalam kebijakan ini, AS menekankan bahwa bantuan yang diberikan tidak akan melibatkan AS dalam aksi militer sebagai serangan balasan atas Iran.

Presiden Biden mengkomunikasikan posisi ini langsung kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam percakapan telepon. Pemerintahan AS mengakui kemampuan Israel untuk melindungi diri sendiri dan menegaskan bahwa AS tidak berencana untuk ikut serta dalam kegiatan militer sebagai tanggapan terhadap serangan Iran.

Serangan terkini dari Iran mendorong AS untuk mengukuhkan dukungan finansial mereka kepada Israel dengan paket bantuan yang bernilai US$ 14 miliar. Keputusan ini diambil meskipun serangan yang dilakukan oleh Iran terhadap Israel tidak menimbulkan kerusakan besar, berkat efektivitas sistem pertahanan Israel yang mendapat dukungan dari negara-negara sekutu.

Dalam pernyataan publik, Presiden Biden menyampaikan penghargaan kepada Israel atas keberhasilan mereka dalam menjaga keamanan negaranya. Pengakuan ini tidak disertai dengan dorongan atau saran untuk Israel melakukan tindakan balasan terhadap Iran.

John Kirby, Juru Bicara Keamanan Nasional AS, menekankan dalam wawancara bahwa sementara AS tetap berkomitmen untuk mendukung Israel dalam mempertahankan kedaulatannya, AS tidak akan terlibat dalam konflik yang lebih luas atau melakukan serangan balik terhadap Iran.

Presiden Biden telah mengajukan permohonan kepada parlemen AS untuk menyetujui paket bantuan yang mencakup US 14  60 miliar untuk Ukraina, dengan total nilai bantuan mencapai US$ 95 miliar. Mike Johnson, ketua DPR dari Partai Republik, telah menunjukkan dukungan terhadap usulan ini, menegaskan pentingnya mendukung Israel.

Amerika Serikat menegaskan dukungan kuatnya bagi Israel melalui bantuan finansial yang signifikan, sambil menjaga posisi yang tidak mengarah pada keterlibatan militer langsung dalam konflik dengan Iran. Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat hubungan bilateral dengan Israel dan memperjelas komitmen AS terhadap keamanan regional.

Ketegangan Iran-Israel Sebabkan Gangguan Substansial pada Penerbangan Global

justjlm.org – Industri penerbangan internasional pada tanggal 15 April 2024 menghadapi tantangan operasional yang belum pernah terjadi sejak tragedi 11 September 2001. Kegiatan militer antara Iran dan Israel, yang mencakup serangan rudal dan drone, telah memaksa penutupan jalur udara vital antara Eropa dan Asia, mengakibatkan disrupsi yang luas terhadap jadwal penerbangan.

Serangan Iran yang dilakukan pada 13 April 2024 telah menyebabkan gangguan signifikan setelah sistem pertahanan Israel, didukung Amerika Serikat, berhasil menangkis sebagian besar serangan tersebut. Efek domino dari insiden ini mencakup pembatalan dan pengalihan rute oleh sejumlah maskapai besar, termasuk Qantas, Lufthansa, United Airlines, dan Air India.

Menurut Mark Zee dari OPSGROUP, gangguan ini dianggap sebagai yang paling parah sejak peristiwa yang mengguncang dunia lebih dari dua dekade lalu. Zee memproyeksikan bahwa konsekuensi dari gangguan ini akan berlanjut selama beberapa hari mendatang, mempengaruhi operasional penerbangan secara signifikan.

Dalam menghadapi penutupan wilayah udara Iran, maskapai penerbangan global kini dihadapkan pada pilihan rute alternatif yang terbatas, yaitu melalui Turki atau melalui koridor udara yang menghubungkan Mesir dan Arab Saudi.

Israel telah mengumumkan pembukaan kembali wilayah udaranya setelah penutupan sementara. Selain itu, negara-negara seperti Yordania, Irak, dan Lebanon juga telah menormalisasi operasi penerbangan mereka. Operator dari Timur Tengah, termasuk Emirates Airlines, Qatar Airways, dan Etihad Airways, telah mengindikasikan kelanjutan operasi mereka meskipun dengan penyesuaian rute tertentu.

Analisis pasar oleh Brendan Sobie, seorang analis penerbangan independen, menduga bahwa permintaan penumpang dapat berubah jika situasi politik terus memburuk. Meskipun terjadi konflik di Ukraina dan Gaza, dampak terhadap permintaan penumpang belum terlihat, namun, perubahan dapat terjadi seiring dengan perkembangan situasi.

Sektor penerbangan global saat ini dihadapkan pada ujian ketahanan yang signifikan. Perubahan situasi geopolitik yang cepat membutuhkan adaptasi yang responsif dari maskapai, sementara penumpang dan analis penerbangan terus memantau dampak jangka panjang dari kondisi keamanan dan permintaan perjalanan udara.